Kebudayaan Daerah Solo

Kata Pengantar

Segala puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,  karena berkat Rahmat-Nya makalah ini dapat saya selesaikan. Makalah ini disusun agar kita dapat memperluas wawasan kita tentang Kebudayaan Daerah Solo.

Makalah ini dibuat dalam rangka pembelajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (softskill). Kebudayaan sangat mengakar di dalam kehidupan setiap manusia di Indonesia, makalah ini adalah salah satu perwujudan kebudayaan dari masyarakat daerah Solo, Jawa Tengah.

Makalah ini, tentunya masih jauh dari kesempurnaan, karena penulis juga masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu arahan, koreksi dan saran, sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.

Bab I

Pendahuluan

 

1.1            Latar Belakang

“Kebudayaan”, siapa yang tidak mengenal kata tersebut. Pastinya masyarakat luas banyak yang mengetahui arti dari kebudayaan. Namun pada kenyataannya banyak juga orang – orang yang tidak memperdulikan kebudayaan itu tersebut, termasuk dengan kebudayaannya daerah masing – masing. Sebenarnya kebudayaan merupakan salah satu hal penting bagi suatu daerah. Karena kebudayaan dapat mencerminkan atau melambangkan bagaimana suatu daerah dapat terkenal. Kebudayaan juga dapat mendatangkan banyak keuntungan, karena dengan kebudayaan banyak wisatawan lokal maupun asing yang ingin datang ke sebuah daerah karena kebudayaannya yang unik ataupun bagus. Dengan hal ini para masyarakat yang berada di daerah tersebut mendapatkan keuntungan seperti masyarakat yang pekerjaannya pedagang akan menjadikan dagangannya cepat laku, dll.

Contohnya daerah Solo, Jawa Tengah. Daerah ini sudah banyak orang yang mengetahuinya karena kebudayaannya. Kebudayaan tidak hanya menyangkut masalah ritual, acara tiap tahunan namun kebudayaan juga termasuk dalam hal pembuatan kerajinan. Daerah ini terkenal dengan kerajinan batik, sebenarnya bukan hanya daerah ini yang terkenal dengan adanya batik, namun itu hanyalah sebagian kecil dari kebudayaan daerah ini. Maka dari itu makalah ini dibuat agar masyarakat luas mengetahui apa saja kebudayaan yang ada di daerah Solo ini.

1.2            Rumusan Masalah

Pada pokok bahasan ini, penulis akan menjelaskan tentang beberapa hal, yaitu:

  • Sejarah daerah Solo
  • Kebudayaan yang dimiliki daerah Solo

 

1.3            Tujuan Penulisan

Dengan adanya makalah ini harapan penulis yaitu:

  • Masyarakat dapat mengetahui kebudayaan daerah Solo
  • Masyarakat dapat melestarikan kebudayaan tersebut
  •  Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (Softskill)

 

Bab II

Isi

2.1     Sejarah Solo

Surakarta atau disebut juga “sala” yang lebih dikenal dengan Solo adalah kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karangayar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan.Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Solo merupakan pewaris Kerajaan Mataram yang dipecah pada tahun 1755.

“Sala” adalah dusun yang dipilih oleh Sunan Pakubuwana II dari tiga dusun yang diajukan kepadanya ketika akan mendirikan istana yang baru, setelah perang suksesi Mataram terjadi di Kartasura.Nama ini berasal dari kepala desa Sala pada waktu itu, yaitu Kyai Sala (Kyai Gêdhe Sala).Nama ini ternyata terus dipakai secara luas sampai sekarang, bahkan memiliki konotasi kultural. Nama “Surakarta”, yang sekarang dipakai sebagai nama administrasi yang mulai dipakai ketika Kasunanan didirikan, sebagai kelanjutan monarki Kartasura.

Pada masa sekarang, nama Surakarta digunakan dalam situasi formal-pemerintahan, sedangkan nama Sala/Solo lebih umum penggunaannya. Kata sura dalam bahasa Jawa berarti “keberanian” dan karta berarti “sempurna”/”penuh”. Dapat pula dikatakan bahwa nama Surakarta merupakan permainan kata dari Kartasura. Kata sala, nama yang dipakai untuk desa tempat istana baru dibangun, adalah nama pohon suci asal India, sala, yang bisa Couroupita guianensis atau Shorea robusta. Ketika Indonesia masih menganut Ejaan van Ophuysen, nama kota ini ditulis Soerakarta.

 

2.2     Kebudayaan yang ada di Solo

Ada beragam kebudayaan yang ada di daerah Solo, berikut adalah beberapa kebudayaan tersebut:

a.      Sekaten

Yaitu perayaan yang dilaksanakan setiap bulan mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Maulud diselenggarakan Grebeg Maulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-alun utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir Sekaten, diadakan kembali acara Grebeg Maulud di Alun-alun Utara.

Rangkaian ritual adat Grebeg Maulud secara lengkap adalah :

1. Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Memboyong gamelan pusaka dari keraton ke Masjid Agung Solo kemudian menabuh gending Rambu dan Rangkur sebagai prosesi Pembuka Maleman Sekaten. Ritual ini dilakukan pada tanggal 5 Mulud (Tahun Jawa). Kedua gamelan terus ditabuh hingga menjelang pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten tujuh hari kemudian.

2. Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi

Menjamasi (membersihkan) meriam pusaka yang terletak di Bangsal Witono, sitihinggil utara Keraton Kasunanan Surakarta. Dilakukan 2 hari sebelum Grebeg Gunungan Sekaten.

3. Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam Keraton.

Pagi hari sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi dalem keraton memboyong kembali gamelan pusaka dari Masjid Agung.. Gamelan Kyai Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang pusaka, sedangkan Kyai Guntur Sari dibawa ke depan Sasana Sewaka. Kyai Guntur Sari akan dibawa dan ditabuh kembali untuk mengiringi Hajad Dalem Gunungan Sekaten ke Masjid Agung

4. Pemberian sedekah Raja berupa gunungan di Masjid Agung

Raja Sinuhun Pakoeboewono memberikan sedekah kepada rakyatnya berupa makanan tradisional dan hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). Gunungan ini akan diarak menuju Masjid Agung diiringi oleh seluruh sentana dan abdi dalem, para prajurit serta gamelan Kyai Guntur Sari yang dimainkan sambil berjalan. Gunungan ini akan didoakan oleh ulama Keraton di masjid Agung kemudian dibagikan kepada seluruh warga. Grebeg Gunungan digelar bersamaan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni tanggal 12 Mulud (Tahun Jawa).

Sekaten--

b.      Tari Bedhaya Ketawang

Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.

Asal mulanya tari Bedhaya Ketawang hanya diperagakan oleh tujuh wanita saja. Dalam perkembangan selanjutnya, karena tari ini dianggap sebuah tarian khusus dan dipercaya sebagai tari yang amat sakral kemudian diperagakan oleh sembilan orang.

Berbeda dengan tarian lainnya, Bedhaya Ketawang ini semula khusus diperagakan oleh abdi dalem Bedhaya Keraton Surakarta Hadiningrat. Iramanya pun terdengar lebih luruh (halus) dibanding dengan tari lainnya semisal Srimpi, dan dalam penyajiannya tanpa disertai keplok-alok (tepuk tangan dan perkataan)

Dikatakan tari Bedhaya karena tari ini menyesuaikan dengan gendingnya, seperti Bedhaya Gending Ketawang Ageng (Karya Penembahan Senapati) Bedhaya Gending Tejanata dan Sinom (karya PB IX) Bedhaya Pangkur (karya PB VIII), Miyanggong (karya PB IV), Duradasih (karya PB V), dan lainnya.

Siapa sebenarnya pencipta tari Bedhaya Ketawang itu sendiri sampai sekarang memang masih simpang siur.

Bedhaya

c.       Kirab Pusaka 1 Suro

Yaitu acara yang ditujukan untuk merayakan tahun baru 1 suro. Rute yang ditempuh kurang lebih sejauh 3 km, yaitu Keraton – Alun-alun Utara – Gladak – Jl. Mayor Kusmanto – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Yos Sudarso – Jl. Slamet Riyadi – Gladak kemudian kembali ke Keraton lagi. Pusaka- pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Kirap yang berada di depan adalah sekelompok Kebo Bule bernama Kyai Slamet sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya. Acara ini di selenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Puro Mangkunegaran yang dilaksanakan pada malam hari menjelang tanggal 1 suro.

kirab pusaka

d.      Solo Batik Carnival

adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

batik carnival

e.       Grebeg Sudiro

Yaitu perayaan yang diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Solo.

Grebeg_Sudiro

Bab III

Penutup

Kesimpulan

Kebudayaan pada dasarnya adalah identitas sebuah daerah. Dengan kebudayaan banyak sekali keuntungan dan juga pelajaran yang didapat. Kebudayaan juga seharusnya dilestarikan khususnya oleh warga masyarakat setempat. Jangan sampai kebudayaan yang dimiliki oleh suatu daerah sejak dahulu kala diambil begitu saja atau diakui oleh daerah lain bahkan oleh Negara lain. Maka dari itu diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat melestarikan daerahnya masing – masing agar bertahan sampai dikemudian hari.

Daftar Pustaka

http://belajarbareng.blog.uns.ac.id/2011/05/14/solo-kota-kebudayaan-jawa/

http://wisatasolo.netne.net/budaya.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surakarta

http://mashendri.com/sejarah-kota-solo.html

http://herijurnalis.blogspot.com/2007/10/menelisik-sejarah-keraton-solo.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s