Subsidi BBM, ‘Biang Kerok’ Defisit Anggaran

Subsidi memang menyenangkan, karena membuat harga barang dan jasa lebih murah dari harga keekonomiannya. Namun konsekuensinya ternyata tidak begitu indah.

Misalnya subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tahun ini dianggarkan Rp 210,7 triliun. Dengan anggaran ini, pemerintah menjual premium bersubsidi sebesar Rp 6.500 per liter, sementara harga keekonomiannya ada di kisaran Rp 10.000 per liter.

“Sederhana, pemerintah kasih uang, orang tinggal konsumsi, maka selesai. Semua senang. Inflasi pun bisa ditahan sesuai target pemerintah,” kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, pekan lalu.

Namun konsekuensinya mulai dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Harga BBM yang murah membuat masyarakat boros dan menganggap barang ini sebagai sesuatu yang sudah semestinyaPadahal, pengadaan BBM tidaklah mudah dan murah.

Saat ini produksi minyak nasional berada di kisaran 800 ribu barel per hari, sementara konsumsinya lebih dari 1 juta barel per hari. Kekurangan itu harus ditutup dengan impor.

Tingginya impor BBM menyebabkan trasaksi berjalan (current account) Indonesia mengalami defisit dalam beberapa kuartal terakhir. Menurut Destry, ini adalah masalah yang serius karena bila transaksi berjalan tidak terjaga dengan baik maka ekonomi akan rentan terhadap serangan krisis.

“Kalau sudah tidak ada keseimbangan, maka akan menimbulkan ketidakseimbangan dan rentan terhadap eksternal dan krisis,” imbuhnya.

Selain menyerang transaksi berjalan, subsidi BBM juga menjadi beban bagi infrastruktur terutama jalan raya. Harga BBM yang murah memberi insentif bagi masyarakat untuk membeli kendaraan pribadi. Padahal pertumbuhan jalan tidak berbanding lurus dengan itu.

“Sekarang jalan raya sudah tidak cukup lagi menampung mobil. Makanya macet hampir setiap hari, khususnya Jakarta,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih.

Kemacetan yang terjadi setiap hari, lanjut Lana, seakan menghapus BBM yang harganya murah. Kondisi macet itu dapat membuat pengunaan bahan bakar menjadi tidak efektif.

Harga BBM yang murah juga menyebabkan transportasi publik sulit berkembang. Oleh karena itu, Lana menilai lebih baik bila subsidi dialihkan untuk sesuatu yang bersifat produktif seperti perbaikan transportasi umum.

Ketika transportasi massal sudah berkembang menjadi lebih nyaman, aman, dan tepat waktu, maka masyarakat akan berpikir dua kali untuk menggunakan kendaraan pribadi.

“Orang nggak akan kena macet lagi. Dengan harga BBM yang mahal, orang nggak mau beli mobil. Kemudian transportasi umum juga memadai. Orang akan lebih sejahtera dengan belanja dari negara,” tutur Lana.

Sumber:

Detik Finance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s